free counters
Juni 19, 2009 by Radical_Dreamers
Akibat menurunnya daya tahan tubuh, ibu hamil
dan bersalin rentan terkena infeksi. Tentunya
infeksi yang terjadi ini bisa berpengaruh pada janin
maupun ibu.
Banyak cara bisa dilakukan untuk mencegahnya.
Antara lain dengan menjaga kebersihan tubuh
sehari-hari, mencuci tangan sebelum makan,
memerhatikan kebersihan makanan;
mempertahankan sistem kekebalan tubuh agar
tetap terjaga baik dengan mengonsumsi makanan
bergizi, olahraga yang diperbolehkan untuk ibu hamil, serta istirahat yang cukup.
Lakukan pula deteksi dini infeksi saat hamil, karena sering kali gejalanya tak kasat
mata sehingga perlu pemeriksaan darah di laboratorium. Jika sudah terjadi infeksi,
lakukan pengobatan dengan baik di bawah pengawasan dokter. Persalinan pun harus
dilakukan di tempat yang sesteril mungkin serta sedapat mungkin persalinan ditolong
oleh tenaga medis (bidan, dokteratau dokter spesialis) di rumah bersalin atau rumah
sakit.

INFEKSI SEBELUM/SEMASA HAMIL
Umumnya, infeksi pada ibu hamil lebih dikenal dengan infeksi TORCH, yang terdiri
dari toksoplasma, others (clamidia, dan lain-lain), rubela atau campak jerman,
cytomegalovirus dan herpes simpleks. Selain itu, ada juga infeksi staphylococcus yang
kemudian lebih dikenal dengan istilah ACA (anticardiolypin). Ada lagi infeksi yang
disebabkan clamidia yaitu sejenis virus, namun infeksi ini tidak banyak terjadi di
Indonesia.
TOKSOPLASMA
* Penyebab:
Ada anggapan selama ini bahwa ibu hamil tak boleh memelihara binatang seperti
kucing, anjing, dan lainnya karena bisa menyebabkan toksoplasmosis.Sebetulnya
yang jadi penyebab infeksi toksoplasma adalah cysts atau oocystsyang hidup setelah
melalui suatu siklus pada binatang kemudian baru berpindah pada manusia. Contoh,
kotoran kucing yang kering dan mengandung oocystsbercampur debu tertiup angin
dan jatuh di rerumputan, kemudian rumput tersebut dimakan oleh kambing. Nah,
daging kambing tersebut jika tidak dimasak matang masih mengandung cyst hidup.
Ibu hamil yang mengonsumsi daging tak matang itu berisikomengidap tokso. Maka
itu, ibu hamil harus mengonsumsi daging yang dimasak matang karena cysts-nya
akan mati. Selain itu, oocyst ini juga bisa terbang bersama debu tertiup angin dan
hinggap pada makanan kita atau makanan yang ada di pinggir jalan, misalnya. Jadi,
ibu hamil jangan makan di sembarang tempat yang kemungkinan besar
terkontaminasi oocysts.
Pada dasarnya, cysts hidup dalam siklus hewan yang ada di darat, bukan hewan yang
hidup dalam air. Jadi, untuk daging ikan mentah, belum terbukti apakah berisiko
menimbulkan toksoplasma. Risiko terinfeksi toksoplasma juga terdapat pada transfusi
darah, kesalahan laboratorium dan transplantasi organ.

* Gejala Klinis:
Sebagian besar tidak tampak secara kasat mata, namun demikian juga ditemukan
seperti gejala flu biasa tergantung strain virusnya, usia, dan derajat imunitas
tubuh/daya tahan tubuh.

* Diagnosis:
Diketahui setelah pemeriksaan darah di laboratorium. Yang diperiksa adalah
antibodinya bukan kumannya. Terbentuknya antibodi diawal infeksikurang lebih 2
minggu kemudian terbentuk IgA, sedangkan IgM akan terbentuk lebih awal dan bisa
bertahan sampai 6 bulan, IgG terbentuk kemudian dan bertahan lebih lama sampai 24
bulan.
Pemeriksaan serologik pada wanita hamil trimester awal (1) didapatkan IgG positif,
IgM negatif, maka perlu diulang 3 minggu kemudian, dan bila didapatkan kenaikan 4
kali lipat berarti adanya reaktivasi/kambuh. Sedangkan bila IgG dan IgM positif dan
aviditasnya < 0,3 menunjukkan infeksi saat hamil dan perlu pengobatan. Sebaliknya
bila > 0,3 kemungkinan besar infeksi lampau, perlu pemeriksaan pada bayi yang
dilahirkan. IgG dan IgM yang ditemukan negatif, tetap dianjurkan pemeriksaan ulang
pada trimester III (28-40 minggu).

* Pengobatan:
Normalnya, bila hasil pemeriksaan kadar antibodi IgG maupun IgM negatif, berarti tak
ada toksoplasma. Jika IgM bernilai positif dan IgG positif maka harus diterapi, karena
berarti ada infeksi. Jika hasil aviditas < 0,3 berarti infeksi sebelum terjadi kehamilan,
sedangkan > 0,3 berarti terjadi infeksi saat hamil, maka perlu terapi yang
adekuat.Jika ada peningkatan kadar antibodi sampai 4 kali secara kuantitas, berarti
ada kuman yang aktif kembali dan perlu diterapi dengan pemberian obat-obatan
antibiotika tertentu yang aman untuk masa hamil. Pengobatan dilakukan selama 3
bulan.

* Pencegahan:
Idealnya, pemeriksaan toksoplasma dilakukan pranikah/hamil, dengan anggapan
sesudah menikah tentunya nanti akan hamil. Jadi, untuk mendapat keturunan yang
baik harus dipersiapkan sejak awal. Sehingga ibu tahu kapan boleh hamil dan tidak,
serta kapan dilakukan pengobatan jika memang ada tokso. Jika pemeriksaan tidak
dilakukan sebelum hamil, paling tidak dilakukan saat hamil. Hanya saja pemeriksaan
toksoplasma relatif jarang dilakukan kecuali ada indikasi semisal ada riwayat
keguguran dan kecacatan bayi yang dilahirkan, hal ini terjadikarena pertimbangan
biaya dan insiden kejadiannyamasih dianggap sedikit.

RUBELA (CAMPAK JERMAN)

* Penyebab:
Virus yang ditularkan melalui kontak udara maupun kontak badan. Virus ini bisa
menyerang usia anak dan dewasa muda. Pada ibu hamil bisa mengakibatkan bayi lahir
tuli.

* Gejala Klinis:
Suhu tubuh panas dan bercak merah di kulit serta terasa gatal. Bila keganasan
virusnya rendah, adakalanya tidak tampak gejala klinis.

* Diagnosis:
Ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang timbul, dan dari pemeriksaan darah di
laboratorium dengan melihat kadar antibodi IgG dan IgM-nya terhadap rubela.

* Pengobatan:
Masih ada kontroversi, apakah harus diterapi atau tidak. Jika ibu pernah terkena
rubela di usia 15 tahun, kemudian menikah di usia 20 tahun, kadar IgG-nya positif.
Hanya saja apakah antibodi IgG-nya ini protektif ataukah tidak? Jika dianggap
protektif, maka tak perlu diterapi. Bila dianggap tidak protektif, tentu perlu diterapi
dengan obat-obatan antiviral selama 3 bulan. Ada pula ahli yang berpendapat bahwa
obat virus tidak ada gunanya, tetapi yang penting imunitas tubuhnya ditingkatkan.

* Pencegahan:
Lakukan vaksinasi Rubela pada penderita yang belum pernah terinfeksi atau kadar
antibodinya IgG negatif dan melakukan tes darah paling tidak 3 bulan sebelum
kehamilan.

SITOMEGALOVIRUS

* Penyebab:
Virus ini dapat bersumber dari tenggorokan, ludah, lendir mulut rahim, sperma, atau
transfusi darah. Akibat dari infeksi virus ini bisa menyebabkan keguguran spontan,
infeksi pada janin sehingga menimbulkan kelainan bawaan. Penularannya lewat
kontak dengan penderita.

* Gejala Klinis:
Hampir sama dengan terkena serangan flu biasa.

* Diagnosis:
Terdeteksi lewat pemeriksaan Imunoglobulin M (IgM) dan CMV kultur atau biakan
virus Cytomegalovirus.

* Pengobatan:
Dengan obat-obatan antiviral selama 3 bulan. Angka kejadian infeksi sitomegalovirus
ini rendah di Indonesia.

* Pencegahan:
Hindari kontak secara langsung atau berhubungan seksual tanpa perlindungan.

HERPES SIMPLEKS

* Penyebab:
Virus yang ditularkan lewat kontak badan dan seksual. Infeksi bisa tertular pada bayi
di saat proses persalinan, karena ada gesekan dengan alat kelamin ibu.

* Gejala Klinis:
Suhu tubuh panas dan timbul gelembung/bintil-bintil kecil berisi cairan kemerahan
dan sakit pada alat kelamin. Karena kondisi tubuh sedang lemah, kuman lain dapat
numpang sehingga dapat menyebabkan infeksi sekunder pada paru-paru, dermatitis,
dan lainnya.

* Diagnosis:
Dari hasil pemeriksaan antibodi, bila hasilnya< 90 =" negatif"> 1.10 = positif

* Pengobatan:
Dengan obat-obatan antiviral yang diberikan selama 3 bulan.

* Pencegahan:
Apabila ibu hamil terinfeksi virus ini, maka agar bayi tidak terinfeksi sebaiknya
dilakukan operasi sesar.

CLAMIDIA

* Penyebab:
Virus. Wanita hamil bisa terinfeksi melalui hubungan seksual atau dari lingkungan
yang kurang bersih. Pemeriksaan dilakukan dengan memeriksa antibodinya.

* Gejala Klinis:
Biasanya tanpa gejala klinis. Hanya saja sering kali hamilnya susah, karena adanya
perlengketan pada organ-organ wanita, semisal perlengketan alat saluran telur
dengan organ sekitarnya, atau perlengketansaluran telur pada rahim, dan lainnya.

* Indikasi:
Dari hasil pemeriksaan antibodi ibu. Satuannya IU/ml. Jika hasilnya < 0,90 = negatif;
>1.10 = positif

* Pengobatan:
Pemberian obat-obatan antivirus, bisa sekitar 3 bulan.

* Pencegahan:
Pemeriksaan dini pada awal kehamilan sangat membantu penanganan.
ACA (ANTICARDIOLYPIN)

* Penyebab:
Staphylococcus mengakibatkan kekentalan darah yang dapat berpengaruh pada
penurunan kemampuan berbagai organ tubuh. Gangguan ini sebetulnya tak hanya
terjadi pada ibu hamil saja.

* Gejala Klinis:
Mirip dengan yang dialami ibu hamil seperti cepat lelah, mengantuk, sering pusing,dan sulit konsentrasi. Serta gejala yang harus dicermati yaitu peningkatan tekanan
darah tanpa sebab yang pasti.

* Indikasi:
Dengan pemeriksaan antibodi. Tergolong mild jika IgG-nya berkisar antara 15-20,
moderate bila antara 20-80, dan tinggi jika kadarnya di atas 80. Semakin tinggi
kadarnya, kian besar pula risiko terjadi keguguran. Pemeriksaan laboratorium
dilakukan setiap 6 bulan sekali.

* Pengobatan:
Terapi dengan obat-obatan dalam dosis yang tepat. Bila kadar antibodi
antiphospholipid masih dalam batas yang dianggap "aman", pengobatan cukup berupa
tablet sejenis aspirin. Bila dari hasil pemeriksaan berikut kadar antibodi
antiphospholipid tetap atau bahkan meningkat, pemberian obat dibarengi suntikan
heparin atau fraksiparin maupun suntikan lain sejenis yang harus dilakukan setiap
hari. Suntikan tersebut relatif aman untuk wanita hamil karena terbukti tak
menembus barier plasenta.

* Pencegahan:
Hindari infeksi staphylococcus seperti infeksi tenggorokan. Hindari penularan lewat
batuk, misalnya. Periksa segera bila mengalami flu yang tidak sembuh setelah terapi
diberikan. Konsultasikan dengan dokter, dan periksa sebelum atau saat hamil.

INFEKSI SAAT BERSALIN

* Penyebab:
Adanya kuman yang masuk semisal karena dilakukan pemeriksaan dalam tanpa
keadaan yang steril, juga akibatketuban pecah dini sebelum proses persalinan.

* Gejala Klinis:
Suhu tubuh ibu panas, detak jantung janin cepat, begitu pula dengan detak jantung
ibu, air ketuban hijau kental dan berbau. Hal ini bisa membahayakan kondisi ibu dan
janinnya bila tidak segera melahirkan.

* Penanganan:
Jika ditemukan keadaan sangat gawat, bayi harus segera dilahirkan. Tentunya
tergantung kondisi ibu saat itu. Jika sudah waktunya mendekati persalinan, dilakukan
tindakan vakum atau forsep. Jika masih jauh waktunya dari persalinan, akan
dilakukan operasi meski dengan risiko bayi lahir prematur. Masalah operasi ini
memang masih kontroversial. ada kontroversi. Jika dalam keadaan infeksi dilakukan
operasi, luka pada tubuh ibu bisa memicu terjadinya sepsis. Namun jika bayi tak
dikeluarkan segera, akan terjadi hipoksia (kekurangan oksigen), bahkan kematian
janin.

* Pencegahan:
Proses persalinan dilakukan dengan cara dan peralatan yang steril mungkin, serta
sedapat mungkin dibantu oleh tenaga medis.


INFEKSI PASCAPERSALINAN

Yang kerap terjadi adalah infeksi pada lapisan dalam rahim.

* Penyebab:
Kuman bakteri. Infeksi sesudah persalinan dapat ditemui pada endometrium atau
lapisan dalam rahim. Infeksi dapat terjadi bila pertolongan persalinan tidak steril;
kondisi daya tahan tubuh menurun sehingga kuman yang tadinya tidak menimbulkan
penyakit jadi menimbulkan penyakit; banyaknya luka terbuka di rahim akibat
lepasnya plasenta, sehingga bila ada satu dua kuman yang masuk ke dalam luka
tersebut menimbulkan infeksi.

* Gejala Klinis:
Tergantung keganasan kumannya serta masa inkubasi. Bisa dalam hitungan jam atau
hari. Gejalanya ada reaksi radang seperti suhu tubuh naik (panas tinggi) dan badan
terasa nyeri, menggigil, nafsu makan menurun. Pada hari kedua mungkin timbul
perlawanan antibodi-antigen. Kemudian keluarlah nanah yang berbau dari
vagina/jalan lahir. Jika berlanjut, kuman bisa masuk dalam aliran darah dan terjadi
sepsis sehingga harapan hidup si ibu kemungkinan sangat kecil.

* Diagnosis:
Ditegakkan berdasar gejala klinis pada ibu masa nifas, yaitu panas tinggi, lokhia
berbau/nanah, denyut nadi cepat, rahim tidak berkontraksi secara adekuat.

* Pengobatan:
Di rawat di rumah sakit dengan pemberian infus/cairan yang adekuat, antibiotik yang
sesuai, dan usahakan rahim berkontraksi.

* Pencegahan:
Persalinan diupayakan dengan cara sesteril mungkin. Dianjurkan pula ibu hamil untuk
imunisasi terutama tetanus guna perlindungan saat pemotongan tali pusat dengan
bayi. Setelah persalinan, karena terjadinya perdarahan, biasanya dokter memberikan
obat-obatan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi. Meski ada juga dokter yang
tidak memberikan obat-obatan antibiotik dengan anggapan bahwa luka yang
diakibatkan persalinan adalah alami dan dapat sembuh sendiri. Selain itu,
penggunaan antibiotika dianggap boros dan membuat kuman tertentu menjadi
resisten.

SUMBER,

Dedeh Kurniasih. Ilustrasi Dok. nakita
Narasumber:
Dr. Chamim, Sp.OG.,
dari RS Fatmawati Jakarta
by Radical_Dreamers
Cegah Sinusitis Sejak Dini
Pernahkan Anda mengalami serangan alergi yang tidak kunjung membaik? Jika iya, besar kemungkinan Anda mengalami sinusitis.

Apa Itu Sinusitis?

Di dalam rongga hidung terdapat empat ruang atau saluran yang dinamakan sinus. Sinus memproduksi cairan yang melembabkan lapisan tipis pada hidung dan tenggorokan. Setiap sinus memiliki satu saluran ke hidung yang memungkinkan terjadinya pertukaran lendir dengan udara. Nah, sinusitis adalah peradangan atau penyumbatan pada sinus yang terjadi karena alergi, infeksi virus, bakteri, atau jamur. Secara klinis, sinusitis dibagi atas: sinusitis akut, sinusitis sub-akut, dan sinusitis kronis. Berdasarkan penyebabnya, sinusitis terbagi menjadi: Rhinogenik (kelainan pada hidung) dan Dentogenik atau Odontogenik (kelainan pada gigi).

Diagnosa terhadap sinusitis biasanya didasarkan pada pemeriksaan fisik dan gejala-gejala yang dialami. Selain itu, tidak jarang dokter menggunakan sinar x atau mengambil cairan hidung untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sinusitis biasanya menimbulkan sakit kepala; sakit pada rahang atas; sakit gigi; lecet di bagian hidung, dahi, dan pipi; bengkak di bagian mata; sakit dan infeksi pada bagian telinga; demam; lesu; batuk, serta ingusan. Hidung tersumbat akibat infeksi virus flu yang menyerang di sekitar hidung dan tenggorokan tak jarang menjalar ke sinus. Radang pada rongga hidung bisa juga disebabkan kesalahan membuang ingus. Ingus yang seharusnya keluar malah tersedot masuk ke rongga sehingga susah untuk dikeluarkan.

Setiap orang dapat terkena sinusitis. Namun, ada faktor yang meningkatkan risiko terkena sinusitis, yaitu merokok. Hawa panas dari rokok yang dihisap dapat merangsang organ di sekitar hidung sehingga menimbulkan iritasi sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya sinusitis. Faktor lain yang dapat mempercepat seseorang terkena sinusitis adalah alergi. Alergi dapat mengakibatkan peradangan di dalam hidung yang kemungkinan merambat ke dalam sinus.

Mengobati dan Mencegah Sinusitis

Biasanya, sinusitis diobati dengan antibiotik dan berbagai jenis obat semprot hidung. Namun, pencegahan selalu lebih baik dari pengobatan. Salah satu cara mudah untuk mencegah peradangan pada sinus adalah menggunakan kain lembut yang sebelumnya direndam dengan air hangat lalu ditempelkan pada pipi. Selain itu, menjaga kebersihan hidung (sinus), khususnya selama serangan alergi dan demam terjadi, sangatlah penting. Membersihkan sinus dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut ini:

Menggunakan decongestan (obat pengencer dahak) dan obat semprot hidung. Namun, jangan menggunakan obat semprot hidung lebih dari tiga kali sehari karena dapat memicu pembengkakan sinus.
Jika hendak melakukan perjalanan udara, maka sebaiknya gunakan obat semprot hidung sebelum pesawat take-off.
Bila alergi terhadap sesuatu, maka sebaiknya hindari kontak dengan alergen atau zat yang menyebabkan alergi.
Istirahat yang cukup. Duduk santai dengan bersandar adalah baik untuk proses pernapasan.


Penderita sinusitis kronis disarankan menjalani terapi antibiotik. Operasi sebaiknya menjadi pilihan terakhir. Operasi hanya dilakukan bila proses pengobatan tidak berhasil. Hasil operasi yang baik tidak hanya membutuhkan teknik operasi yang tepat melainkan juga usaha yang maksimal, baik dari pasien maupun medis untuk proses penyembuhannya.

Pencegahan terhadap sinusitis bergantung pada penyebab sinusitisnya. Beberapa cara di bawah ini adalah cara untuk mencegah terjadinya sinusitis:

Biasakan mencuci tangan sesering mungkin untuk menghindari bakteri menempel di tangan dan menimbulkan alergi. Jaga pula lingkungan agar tetap bersih.
Mencegah stres dan mengonsumsi makanan yang kaya akan antioksidan, terutama sayur dan buah yang dapat menguatkan sistem kekebalan tubuh sehingga akan mencegah serangan sinus musiman.
Jaga kondisi sinus agar tetap kering dan bersih dengan minum air yang cukup agar cairan hidung tetap encer.
Menggunakan obat semprot hidung untuk melawan alergen.
Menghindari zat-zat yang menyebabkan alergi yang terdapat di lingkungan, seperti debu, asap rokok, dll


source:www.hd.co.id

by Radical_Dreamers

Good day, ,

There are a lot of human resources (HR) and human capital management (HCM) solutions on the market, and here's your chance to compare them—quickly and easily.

Some of the leading solutions include Sage Abra HRMS, Vista by PDS, Talent Management Suite by Cornerstone, Lawson S3 Human Capital Management, NuViewHR, Ramco Enterprise Series, PeopleNet 7 by META4, Cézanne Suite, emPath by NOW Solutions, and PeopleSoft Human Resources by Oracle.

But which one is best for your organization?

To find out, simply use TEC's HR Evaluation Center to compare any three HR or HCM solutions of your choice. You can choose from a list of 34 different HR and HCM solutions in all, including all the popular solutions listed above. You'll get a head-to-head comparison based on the special needs of your organization: its size, industry, business model, geographical markets, etc.

The results will rank all three solutions on how well they fit with your organization's requirements. Then you'll have a much clearer idea of which HR or HCM solution is the best for your organization.

It's fast, it's free, and you'll get the results immediately. Click here for your own custom HR/HCM comparison.

For assistance, please contact customer service.
Hours: 8:00 AM to 5:30 PM EST. Phone: 514-954-3665, ext. 367.
by Radical_Dreamers
Lada atau merica adalah salah satu rempah penting yang memiliki berbagai
khasiat obat. Lada (Piper nigrum), dikenal bisa mengatasi berbagai penyakit
seperti rematik, asma, eksim, sakit kepala, perut kembung, batuk rejan,
panas dalam, dan lain-lain.

Lada tergolong tumbuhan memanjat. Daunnya berbentuk bulat telur, tunggal,
bertangkai, letak berseling atau tersebar. Lada berbunga majemuk, berbentuk
bulir, dan menggantung dengan panjang bulir 3,5 sampai 22 cm, terdapat pada
ujung atau berhadapan dengan daun. Hasil olahan buah lada dibedakan menjadi
dua jenis yaitu lada putih dan lada hitam. Bagian yang dipakai sebagai obat
adalah buah.

Menurut Prof Hembing Wijayakusuma dalam bukunya Tumbuhan Berkhasiat Obat,
kandungan kimia yang dikandung lada adalah saponin, flavonoida, minyak
atsiri, kavisin, resin, zat putih telur, amilum, piperine, piperiline,
piperoleine, poperanine, piperonal, dihdrokarveol, kanyo-fillene oksida,
kariptone, tran piocarrol, dan minyak lada. Sifat kimiawi lada adalah pedas,
berbau khas, aromatik, dan memiliki efek farmakologis sebagai peluruh haid.

Untuk mengatasi rematik, lada, cengkeh, dan daun muda belimbing wuluh
dihaluskan lalu tambahkan cuka beras putih secukupnya. Kemudian dioleskan
pada bagian yang sakit. Mengatasi rematik, asam urat, pegal linu, keropos
tulang, sebanyak 5 gram lada, 5 gram biji pala, 1 jari kayu manis, 5 butir
kapulaga, 5 butir cengkeh, 10 gram jahe, 10 gram jahe merah, 200 gram ubi
jalar merah, dan gula merah secukupnya direbus dengan 1.000 cc air hingga
tersisa 500 cc. Lalu diminum airnya dan dimakan ubi jalar merahnya.

Sebagai obat asma, 10 butir lada, 8 lembar daun sirih dihaluskan lalu
ditambahkan 1 sendok teh minyak kayu putih. Ramuan diaduk lalu dioleskan
pada tengkuk dan dada. Obat eksim, 10 butir lada dan 20 gram daun sangketan
(Heliotropium indicum) dihaluskan lalu tambahkan 1 sendok teh air perasan
jeruk nipis dan kapur sirih secukupnya. Ramuan diaduk dan digosokkan pada
bagian yang sakit.

Mengatasi sakit kepala, 1 sendok teh lada, 15 gram daun gandarusa, dan 15
gram jahe dihaluskan lalu tambahkan 1 sendok makan minyak kayu putih.
Gosokkan pada leher dan punggung. Lakukan satu kali sehari. Ramuan lainnya,
5 gram lada, 5 butir cengkeh, 5 gram biji pala, dan 1 jari kayu manis
dikeringkan dan ditumbuk hingga menjadi bubuk. Lalu diseduh dengan air
panas, dan selagi hangat diminum untuk obat sakit kepala.

Obat perut kembung, 5 gram lada, 5 butir cengkeh, 5 butir kapulaga, 1 jari
kayu manis, 5 gram biji pala, 30 gram kismis, 200 gram ubi jalar merah, 10
gram jahe, direbus dengan 1.000 cc air hingga tersisa 500 cc. Airnya diminum
dan ubi jalar dimakan.

Mengatasi batuk rejan, 5 butir lada putih, 1 buah lobak, dan dua sendok
makan madu ditim, lalu dimakan. Obat panas dalam, 5 gram lada dan 1 buah pir
direbus dengan air secukupnya, disaring dan ditambahkan madu secukupnya lalu
diminum airnya.

Sumber: Republika Online

Regards,
www.tokoherbal.com

PR

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "