PENANGANAN INFEKSI KEHAMILAN DAN PERSALINAN
Juni 19, 2009 by: Radical_DreamersAkibat menurunnya daya tahan tubuh, ibu hamil
dan bersalin rentan terkena infeksi. Tentunya
infeksi yang terjadi ini bisa berpengaruh pada janin
maupun ibu.
Banyak cara bisa dilakukan untuk mencegahnya.
Antara lain dengan menjaga kebersihan tubuh
sehari-hari, mencuci tangan sebelum makan,
memerhatikan kebersihan makanan;
mempertahankan sistem kekebalan tubuh agar
tetap terjaga baik dengan mengonsumsi makanan
bergizi, olahraga yang diperbolehkan untuk ibu hamil, serta istirahat yang cukup.
Lakukan pula deteksi dini infeksi saat hamil, karena sering kali gejalanya tak kasat
mata sehingga perlu pemeriksaan darah di laboratorium. Jika sudah terjadi infeksi,
lakukan pengobatan dengan baik di bawah pengawasan dokter. Persalinan pun harus
dilakukan di tempat yang sesteril mungkin serta sedapat mungkin persalinan ditolong
oleh tenaga medis (bidan, dokteratau dokter spesialis) di rumah bersalin atau rumah
sakit.

INFEKSI SEBELUM/SEMASA HAMIL
Umumnya, infeksi pada ibu hamil lebih dikenal dengan infeksi TORCH, yang terdiri
dari toksoplasma, others (clamidia, dan lain-lain), rubela atau campak jerman,
cytomegalovirus dan herpes simpleks. Selain itu, ada juga infeksi staphylococcus yang
kemudian lebih dikenal dengan istilah ACA (anticardiolypin). Ada lagi infeksi yang
disebabkan clamidia yaitu sejenis virus, namun infeksi ini tidak banyak terjadi di
Indonesia.
TOKSOPLASMA
* Penyebab:
Ada anggapan selama ini bahwa ibu hamil tak boleh memelihara binatang seperti
kucing, anjing, dan lainnya karena bisa menyebabkan toksoplasmosis.Sebetulnya
yang jadi penyebab infeksi toksoplasma adalah cysts atau oocystsyang hidup setelah
melalui suatu siklus pada binatang kemudian baru berpindah pada manusia. Contoh,
kotoran kucing yang kering dan mengandung oocystsbercampur debu tertiup angin
dan jatuh di rerumputan, kemudian rumput tersebut dimakan oleh kambing. Nah,
daging kambing tersebut jika tidak dimasak matang masih mengandung cyst hidup.
Ibu hamil yang mengonsumsi daging tak matang itu berisikomengidap tokso. Maka
itu, ibu hamil harus mengonsumsi daging yang dimasak matang karena cysts-nya
akan mati. Selain itu, oocyst ini juga bisa terbang bersama debu tertiup angin dan
hinggap pada makanan kita atau makanan yang ada di pinggir jalan, misalnya. Jadi,
ibu hamil jangan makan di sembarang tempat yang kemungkinan besar
terkontaminasi oocysts.
Pada dasarnya, cysts hidup dalam siklus hewan yang ada di darat, bukan hewan yang
hidup dalam air. Jadi, untuk daging ikan mentah, belum terbukti apakah berisiko
menimbulkan toksoplasma. Risiko terinfeksi toksoplasma juga terdapat pada transfusi
darah, kesalahan laboratorium dan transplantasi organ.
* Gejala Klinis:
Sebagian besar tidak tampak secara kasat mata, namun demikian juga ditemukan
seperti gejala flu biasa tergantung strain virusnya, usia, dan derajat imunitas
tubuh/daya tahan tubuh.
* Diagnosis:
Diketahui setelah pemeriksaan darah di laboratorium. Yang diperiksa adalah
antibodinya bukan kumannya. Terbentuknya antibodi diawal infeksikurang lebih 2
minggu kemudian terbentuk IgA, sedangkan IgM akan terbentuk lebih awal dan bisa
bertahan sampai 6 bulan, IgG terbentuk kemudian dan bertahan lebih lama sampai 24
bulan.
Pemeriksaan serologik pada wanita hamil trimester awal (1) didapatkan IgG positif,
IgM negatif, maka perlu diulang 3 minggu kemudian, dan bila didapatkan kenaikan 4
kali lipat berarti adanya reaktivasi/kambuh. Sedangkan bila IgG dan IgM positif dan
aviditasnya < 0,3 menunjukkan infeksi saat hamil dan perlu pengobatan. Sebaliknya
bila > 0,3 kemungkinan besar infeksi lampau, perlu pemeriksaan pada bayi yang
dilahirkan. IgG dan IgM yang ditemukan negatif, tetap dianjurkan pemeriksaan ulang
pada trimester III (28-40 minggu).
* Pengobatan:
Normalnya, bila hasil pemeriksaan kadar antibodi IgG maupun IgM negatif, berarti tak
ada toksoplasma. Jika IgM bernilai positif dan IgG positif maka harus diterapi, karena
berarti ada infeksi. Jika hasil aviditas < 0,3 berarti infeksi sebelum terjadi kehamilan,
sedangkan > 0,3 berarti terjadi infeksi saat hamil, maka perlu terapi yang
adekuat.Jika ada peningkatan kadar antibodi sampai 4 kali secara kuantitas, berarti
ada kuman yang aktif kembali dan perlu diterapi dengan pemberian obat-obatan
antibiotika tertentu yang aman untuk masa hamil. Pengobatan dilakukan selama 3
bulan.
* Pencegahan:
Idealnya, pemeriksaan toksoplasma dilakukan pranikah/hamil, dengan anggapan
sesudah menikah tentunya nanti akan hamil. Jadi, untuk mendapat keturunan yang
baik harus dipersiapkan sejak awal. Sehingga ibu tahu kapan boleh hamil dan tidak,
serta kapan dilakukan pengobatan jika memang ada tokso. Jika pemeriksaan tidak
dilakukan sebelum hamil, paling tidak dilakukan saat hamil. Hanya saja pemeriksaan
toksoplasma relatif jarang dilakukan kecuali ada indikasi semisal ada riwayat
keguguran dan kecacatan bayi yang dilahirkan, hal ini terjadikarena pertimbangan
biaya dan insiden kejadiannyamasih dianggap sedikit.
RUBELA (CAMPAK JERMAN)
* Penyebab:
Virus yang ditularkan melalui kontak udara maupun kontak badan. Virus ini bisa
menyerang usia anak dan dewasa muda. Pada ibu hamil bisa mengakibatkan bayi lahir
tuli.
* Gejala Klinis:
Suhu tubuh panas dan bercak merah di kulit serta terasa gatal. Bila keganasan
virusnya rendah, adakalanya tidak tampak gejala klinis.
* Diagnosis:
Ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang timbul, dan dari pemeriksaan darah di
laboratorium dengan melihat kadar antibodi IgG dan IgM-nya terhadap rubela.
* Pengobatan:
Masih ada kontroversi, apakah harus diterapi atau tidak. Jika ibu pernah terkena
rubela di usia 15 tahun, kemudian menikah di usia 20 tahun, kadar IgG-nya positif.
Hanya saja apakah antibodi IgG-nya ini protektif ataukah tidak? Jika dianggap
protektif, maka tak perlu diterapi. Bila dianggap tidak protektif, tentu perlu diterapi
dengan obat-obatan antiviral selama 3 bulan. Ada pula ahli yang berpendapat bahwa
obat virus tidak ada gunanya, tetapi yang penting imunitas tubuhnya ditingkatkan.
* Pencegahan:
Lakukan vaksinasi Rubela pada penderita yang belum pernah terinfeksi atau kadar
antibodinya IgG negatif dan melakukan tes darah paling tidak 3 bulan sebelum
kehamilan.
SITOMEGALOVIRUS
* Penyebab:
Virus ini dapat bersumber dari tenggorokan, ludah, lendir mulut rahim, sperma, atau
transfusi darah. Akibat dari infeksi virus ini bisa menyebabkan keguguran spontan,
infeksi pada janin sehingga menimbulkan kelainan bawaan. Penularannya lewat
kontak dengan penderita.
* Gejala Klinis:
Hampir sama dengan terkena serangan flu biasa.
* Diagnosis:
Terdeteksi lewat pemeriksaan Imunoglobulin M (IgM) dan CMV kultur atau biakan
virus Cytomegalovirus.
* Pengobatan:
Dengan obat-obatan antiviral selama 3 bulan. Angka kejadian infeksi sitomegalovirus
ini rendah di Indonesia.
* Pencegahan:
Hindari kontak secara langsung atau berhubungan seksual tanpa perlindungan.
HERPES SIMPLEKS
* Penyebab:
Virus yang ditularkan lewat kontak badan dan seksual. Infeksi bisa tertular pada bayi
di saat proses persalinan, karena ada gesekan dengan alat kelamin ibu.
* Gejala Klinis:
Suhu tubuh panas dan timbul gelembung/bintil-bintil kecil berisi cairan kemerahan
dan sakit pada alat kelamin. Karena kondisi tubuh sedang lemah, kuman lain dapat
numpang sehingga dapat menyebabkan infeksi sekunder pada paru-paru, dermatitis,
dan lainnya.
* Diagnosis:
Dari hasil pemeriksaan antibodi, bila hasilnya< 90 =" negatif"> 1.10 = positif
* Pengobatan:
Dengan obat-obatan antiviral yang diberikan selama 3 bulan.
* Pencegahan:
Apabila ibu hamil terinfeksi virus ini, maka agar bayi tidak terinfeksi sebaiknya
dilakukan operasi sesar.
CLAMIDIA
* Penyebab:
Virus. Wanita hamil bisa terinfeksi melalui hubungan seksual atau dari lingkungan
yang kurang bersih. Pemeriksaan dilakukan dengan memeriksa antibodinya.
* Gejala Klinis:
Biasanya tanpa gejala klinis. Hanya saja sering kali hamilnya susah, karena adanya
perlengketan pada organ-organ wanita, semisal perlengketan alat saluran telur
dengan organ sekitarnya, atau perlengketansaluran telur pada rahim, dan lainnya.
* Indikasi:
Dari hasil pemeriksaan antibodi ibu. Satuannya IU/ml. Jika hasilnya < 0,90 = negatif;
>1.10 = positif
* Pengobatan:
Pemberian obat-obatan antivirus, bisa sekitar 3 bulan.
* Pencegahan:
Pemeriksaan dini pada awal kehamilan sangat membantu penanganan.
ACA (ANTICARDIOLYPIN)
* Penyebab:
Staphylococcus mengakibatkan kekentalan darah yang dapat berpengaruh pada
penurunan kemampuan berbagai organ tubuh. Gangguan ini sebetulnya tak hanya
terjadi pada ibu hamil saja.
* Gejala Klinis:
Mirip dengan yang dialami ibu hamil seperti cepat lelah, mengantuk, sering pusing,dan sulit konsentrasi. Serta gejala yang harus dicermati yaitu peningkatan tekanan
darah tanpa sebab yang pasti.
* Indikasi:
Dengan pemeriksaan antibodi. Tergolong mild jika IgG-nya berkisar antara 15-20,
moderate bila antara 20-80, dan tinggi jika kadarnya di atas 80. Semakin tinggi
kadarnya, kian besar pula risiko terjadi keguguran. Pemeriksaan laboratorium
dilakukan setiap 6 bulan sekali.
* Pengobatan:
Terapi dengan obat-obatan dalam dosis yang tepat. Bila kadar antibodi
antiphospholipid masih dalam batas yang dianggap "aman", pengobatan cukup berupa
tablet sejenis aspirin. Bila dari hasil pemeriksaan berikut kadar antibodi
antiphospholipid tetap atau bahkan meningkat, pemberian obat dibarengi suntikan
heparin atau fraksiparin maupun suntikan lain sejenis yang harus dilakukan setiap
hari. Suntikan tersebut relatif aman untuk wanita hamil karena terbukti tak
menembus barier plasenta.
* Pencegahan:
Hindari infeksi staphylococcus seperti infeksi tenggorokan. Hindari penularan lewat
batuk, misalnya. Periksa segera bila mengalami flu yang tidak sembuh setelah terapi
diberikan. Konsultasikan dengan dokter, dan periksa sebelum atau saat hamil.
INFEKSI SAAT BERSALIN
* Penyebab:
Adanya kuman yang masuk semisal karena dilakukan pemeriksaan dalam tanpa
keadaan yang steril, juga akibatketuban pecah dini sebelum proses persalinan.
* Gejala Klinis:
Suhu tubuh ibu panas, detak jantung janin cepat, begitu pula dengan detak jantung
ibu, air ketuban hijau kental dan berbau. Hal ini bisa membahayakan kondisi ibu dan
janinnya bila tidak segera melahirkan.
* Penanganan:
Jika ditemukan keadaan sangat gawat, bayi harus segera dilahirkan. Tentunya
tergantung kondisi ibu saat itu. Jika sudah waktunya mendekati persalinan, dilakukan
tindakan vakum atau forsep. Jika masih jauh waktunya dari persalinan, akan
dilakukan operasi meski dengan risiko bayi lahir prematur. Masalah operasi ini
memang masih kontroversial. ada kontroversi. Jika dalam keadaan infeksi dilakukan
operasi, luka pada tubuh ibu bisa memicu terjadinya sepsis. Namun jika bayi tak
dikeluarkan segera, akan terjadi hipoksia (kekurangan oksigen), bahkan kematian
janin.
* Pencegahan:
Proses persalinan dilakukan dengan cara dan peralatan yang steril mungkin, serta
sedapat mungkin dibantu oleh tenaga medis.
INFEKSI PASCAPERSALINAN
Yang kerap terjadi adalah infeksi pada lapisan dalam rahim.
* Penyebab:
Kuman bakteri. Infeksi sesudah persalinan dapat ditemui pada endometrium atau
lapisan dalam rahim. Infeksi dapat terjadi bila pertolongan persalinan tidak steril;
kondisi daya tahan tubuh menurun sehingga kuman yang tadinya tidak menimbulkan
penyakit jadi menimbulkan penyakit; banyaknya luka terbuka di rahim akibat
lepasnya plasenta, sehingga bila ada satu dua kuman yang masuk ke dalam luka
tersebut menimbulkan infeksi.
* Gejala Klinis:
Tergantung keganasan kumannya serta masa inkubasi. Bisa dalam hitungan jam atau
hari. Gejalanya ada reaksi radang seperti suhu tubuh naik (panas tinggi) dan badan
terasa nyeri, menggigil, nafsu makan menurun. Pada hari kedua mungkin timbul
perlawanan antibodi-antigen. Kemudian keluarlah nanah yang berbau dari
vagina/jalan lahir. Jika berlanjut, kuman bisa masuk dalam aliran darah dan terjadi
sepsis sehingga harapan hidup si ibu kemungkinan sangat kecil.
* Diagnosis:
Ditegakkan berdasar gejala klinis pada ibu masa nifas, yaitu panas tinggi, lokhia
berbau/nanah, denyut nadi cepat, rahim tidak berkontraksi secara adekuat.
* Pengobatan:
Di rawat di rumah sakit dengan pemberian infus/cairan yang adekuat, antibiotik yang
sesuai, dan usahakan rahim berkontraksi.
* Pencegahan:
Persalinan diupayakan dengan cara sesteril mungkin. Dianjurkan pula ibu hamil untuk
imunisasi terutama tetanus guna perlindungan saat pemotongan tali pusat dengan
bayi. Setelah persalinan, karena terjadinya perdarahan, biasanya dokter memberikan
obat-obatan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi. Meski ada juga dokter yang
tidak memberikan obat-obatan antibiotik dengan anggapan bahwa luka yang
diakibatkan persalinan adalah alami dan dapat sembuh sendiri. Selain itu,
penggunaan antibiotika dianggap boros dan membuat kuman tertentu menjadi
resisten.
Dedeh Kurniasih. Ilustrasi Dok. nakita
Narasumber:
Dr. Chamim, Sp.OG.,
dari RS Fatmawati Jakarta





